SULUT – Akibat terjadinya longsor yang menyebabkan putusnya jalan di ruas jalan nasional Girian-Likupang jalan Nasional, Aliansi Rakyat Penambang (APR) RI tegaskan PT. Meares Soputan Mining (MSM) dan Tambang Tondano Nusajaya (TTN) harus bertanggung jawab.
Ini disampaikan Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ARP RI Jems Tuuk, Senin (15/06/2026).
Jems Tuuk bahkan dengan tegas menantang agar pihak Aparat Hukum (APH) Sulawesi Utara (Sulut) berani bertindak, karena jalan tersebut berada dekat dengan lokasi pertambangan milik PT.MSM/TTN yang melakukan blasting.
“APH harus berani menangkap Dirut dan Owner perusahaan tersebut karena berinvestasi kemudian merusak aset pemerintah. Jangan mau kalah dengan Oligarki,”tegas Tuuk yang juga Tim Khusus (Timsus) Perecepatan Perekonomian Gubernur Yulius Selvanus.
Tuuk tegas mengatakan, Presiden RI Prabowo Subianto berani mengambil langkah melawan oligarki, itu wajib didukung dengan melakukan langkah penegakan hukum.
“Jika longsornya jalan tersebut didekat lokasi tambang rakyat belum berijin saya yakin paling sedikit 7 BAP yang dikeluarkan Kepolisian mulai dari Polsek Sampai dengan Polda. Jika APH hanya diam, maka Sila ke 5 Pancasila menjadi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Pengusaha di Indonesia,”tegas Tuuk.
Ia berharap APH jangan hanya berani menyentuh penambang rakyat yang belum berijin.
“Saya harap Kejagung turun lapangan ke lokasi PT.MSM/TTN,”ucapnya
Sementara itu, Dirut PT.MSM/TTN David Sompie menegaskan bahwa penyebab longsor yang terjadi belum dapat disimpulkan secara pasti sebagai dampak aktivitas pertambangan.
Ini disampaikannya usai Rapat Koordinasi Pemerintah Kota Bitung bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Utara, PT.MSM/TNN, aparat keamanan, DPRD Provinsi Sulawesi Utara, dan perwakilan masyarakat Tinerungan terkait pengoperasian jalan khusus milik PT TNN di Hotel Fave Bitung, Senin (15/6/2026).
Menurut Sompie,diperlukan kajian ilmiah dan data teknis yang komprehensif sebelum menarik kesimpulan.
“Kami tidak bisa langsung menyimpulkan apakah longsor disebabkan aktivitas tambang atau faktor lain. Yang pasti, perusahaan memiliki sistem pemantauan pergerakan tanah secara real time sehingga potensi longsor sudah terdeteksi lebih awal dan akses jalan sempat ditutup sebelum kejadian terjadi,” jelasnya.