Peringati Haornas, Victor Mailangkay Ajak Rubah Pola Pikir , Fokus Pada Kesehatan Dengan Berolahraga Bukan Mengobati Sakit
SULUT – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut) memperingati Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) Tahun 2026 dengan semangat menjadikan aktivitas fisik sebagai fondasi utama pembangunan manusia dan kesejahteraan daerah.
Dalam sambutan yang disampaikan Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Dr. J. Victor Mailangkay, S.H., M.H., ditegaskan bahwa olahraga bukan sekadar pengeluaran anggaran, melainkan investasi bangsa yang paling berharga.
“Melalui olahraga, kita membangun manusia Indonesia secara utuh membentuk karakter yang disiplin, tangguh, sportif, serta memiliki semangat pantang menyerah. Di saat yang sama, olahraga juga merupakan investasi kesehatan yang menjadikan masyarakat semakin bugar, produktif, dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik,” ujar Wagub Victor.
Mengusung tema besar “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar”. Peringatan ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan tumbuh menjadi gerakan nyata yang menyeluruh dan menjadi bagian tak terpisahkan dari agenda pembangunan daerah maupun nasional.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, ditegaskan lima arah kebijakan strategis yang menjadi pedoman bersama:
• Olahraga harus menjadi bagian utama pembangunan kesehatan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pola pikir harus berubah tidak lagi hanya fokus mengobati saat sakit, melainkan membangun kebiasaan bergerak aktif agar masyarakat tetap sehat dan bugar sejak dini.
• Pemerintah daerah berperan sebagai penggerak utama gerakan masyarakat aktif dan bugar. Tersedianya ruang terbuka hijau, fasilitas olahraga yang memadai, jalur pejalan kaki, jalur sepeda, serta program yang murah, mudah dijangkau, aman, dan ramah semua kalangan menjadi keharusan.
• Budaya berolahraga harus meresap ke setiap ruang kehidupan di sekolah, tempat kerja, desa, kelurahan, ruang publik, hingga lingkungan keluarga. Kegiatan seperti Car Free Day pun harus dimanfaatkan secara maksimal sebagai sarana membangun kebiasaan bergerak, bukan sekadar rutinitas acara.
• Keberhasilan tidak lagi diukur dari banyaknya pertandingan atau acara yang digelar, melainkan dari perubahan perilaku nyata warga. Berapa banyak yang rutin berolahraga, Apakah tingkat kebugaran benar-benar meningkat? Data yang akurat dan terukur itulah yang menjadi dasar setiap kebijakan yang diambil.
Olahraga harus terbuka, adil, dan inklusif. Anak-anak, pemuda, perempuan, laki-laki, lansia, warga pedesaan maupun perkotaan, hingga penyandang disabilitas semuanya berhak mendapat kesempatan yang sama untuk bergerak, berkembang, dan berprestasi.
Tujuan besar yang ingin dicapai adalah transformasi budaya bangsa mengubah pola pikir dari masyarakat yang pasif menjadi aktif, dari aktif menjadi bugar, dari bugar menjadi produktif, hingga akhirnya melahirkan bangsa yang kuat, sehat, dan berdaya saing tinggi.
Wagub Victor juga mengingatkan bahwa atlet berprestasi tidak lahir dari ruang kosong. Prestasi lahir dari lingkungan masyarakat yang sudah gemar berolahraga sejak awal. Oleh sebab itu, pembangunan budaya olahraga, pembibitan atlet, serta pengembangan industri olahraga harus tumbuh bersama sebagai satu kesatuan sistem yang saling menguatkan.
“Kita ajak seluruh pemerintah daerah, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi olahraga, komunitas, keluarga, dan seluruh rakyat Indonesia untuk bergerak bersama. Tidak perlu menunggu, tidak perlu mahal, tidak perlu rumit. Mulailah bergerak dari sekarang berjalan, berlari, bersepeda, senam bersama, atau beraktivitas fisik sesuai kemampuan masing-masing,” ajaknya.