Senator Stefanus BAN Liow Kunjungan Kerja di Kota Bitung 

0

BITUNG, Indo-news.id — Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dapil Sulawesi Utara, Stefanus B.A.N Liow, melakukan kunjungan kerja ke Kota Bitung, Kamis (26/2/2026). 

Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka pengawasan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, sekaligus mengecek kesiapan PT Pelni Cabang Bitung dan Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Bitung dalam menghadapi perayaan Nyepi dan Lebaran Idul Fitri 2026.

Selain agenda pengawasan, kunjungan ini juga menjadi balasan atas kunjungan Wartawan Biro Bitung yang sebelumnya bertandang ke Kantor DPD RI pada 10 Februari 2026 lalu.

Dalam peninjauan di Pelni Cabang Bitung, Senator Stefanus BAN Liow menyoroti pola arus penumpang yang memiliki karakteristik berbeda dibanding daerah lain. 

Ia menjelaskan bahwa lonjakan tertinggi di Bitung biasanya terjadi saat Natal dan Tahun Baru. 

Namun demikian, menjelang Nyepi dan Lebaran tetap terjadi peningkatan jumlah penumpang, terutama untuk rute menuju Ambon dan Papua.

Kunjungan Wartawan Biro Kota Bitung di ruang kerja anggota DPD RI Ir. Stefanus BAN Liow MAP, 10 Februari 2026.

“Kadang dari pelabuhan awal seperti Jakarta, Surabaya, Makassar atau Baubau, kapal sudah membawa penumpang penuh. Saat tiba di Bitung, yang turun hanya sekitar 50 orang tetapi yang naik bisa 200 orang. Ini tentu perlu pengaturan kapasitas sesuai persetujuan otoritas pelabuhan,” ujar Liow kepada sejumlah wartawan.

Ia mengakui, sepanjang masih dalam batas kapasitas dan mendapat izin otoritas, penambahan penumpang dimungkinkan. 

Namun di lapangan kerap terjadi penumpang tujuan Papua tidak terangkut karena kuota penuh. 

Sebagian memilih naik hingga Ternate untuk melanjutkan perjalanan.

Dari sisi kesiapan armada dan sistem, Liow menyampaikan bahwa Pelni telah memenuhi standar operasional. 

Sistem tiket disebut sudah terintegrasi dan peralatan navigasi dinilai canggih, termasuk kemampuan mendeteksi posisi kapal, kedalaman laut, hingga kondisi cuaca.

Fasilitas keselamatan seperti alat pelampung juga telah sesuai standar. 

Bahkan sejumlah kapal telah dilengkapi jaringan WiFi untuk menunjang kenyamanan penumpang.

Meski demikian, ia menyoroti persoalan klasik di pelabuhan, yakni keberadaan pedagang asongan yang masuk hingga ke area kapal. 

Menurutnya, hal ini menjadi perhatian serius karena sulit membedakan antara penumpang resmi dan pedagang. 

Bahkan ditemukan indikasi masuknya pedagang melalui celah pagar atau jalur laut.

“Ini harus dicarikan solusi bersama karena menyangkut keamanan dan keselamatan pelayaran,” tegasnya.

Dalam kunjungan ke KSOP Bitung, Stefanus juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap kapal-kapal kecil, termasuk kapal wisata yang melayani rute ke sejumlah resort. 

Di satu sisi, aktivitas tersebut berkontribusi terhadap pendapatan daerah dan negara. 

Namun di sisi lain, masih ditemukan kapal yang belum mengantongi izin lengkap akibat mekanisme perizinan yang dinilai rumit dan berbiaya tinggi.

Menurut Liow, perlu ada jembatan solusi agar pelaku usaha tetap memenuhi standar keselamatan tanpa terbebani prosedur yang menyulitkan.

Ia mendorong sinergi antara KSOP, Pelni, Pelindo, serta otoritas terkait lainnya guna menciptakan sistem pengawasan terpadu di Pelabuhan Bitung.

“Sinergi dan kolaborasi antar-otoritas pelabuhan penting agar pengawasan lebih efektif, termasuk mencegah potensi penyelundupan barang dan memastikan seluruh aktivitas pelayaran sesuai aturan,” katanya.

Kunjungan kerja ini menjadi bagian dari fungsi pengawasan DPD RI terhadap implementasi regulasi pelayaran, sekaligus memastikan kesiapan infrastruktur transportasi laut di Sulawesi Utara menjelang momentum hari besar keagamaan tahun 2026.