Solidaritas Petugas Damkar Bitung Muncul Usai Pernyataan Nabsar Badoa
BITUNG, Indo-news.id— Aksi protes dilakukan sejumlah petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Bitung menyusul pernyataan anggota DPRD Kota Bitung, Nabsar Badoa, terkait penanganan laporan kebakaran di wilayah Madidir.
Aksi solidaritas tersebut dilakukan petugas Damkar pada Minggu (30/8/2026).
Para petugas menyampaikan keberatan terhadap pernyataan yang mereka nilai menyinggung kinerja petugas pemadam kebakaran saat menjalankan tugas di lapangan.
Persoalan tersebut bermula setelah anggota DPRD Kota Bitung, Nabsar Badoa, menghubungi Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bitung, Edij Rudij Ponamon.
Dalam sambungan telepon tersebut, Nabsar menyampaikan sejumlah keluhan terkait lambannya petugas datang ke lokasi yang dilaporkan mengalami kebakaran.
Dalam percakapan tersebut, Nabsar antara lain mengatakan, “Pak Kadis itu anak buah bergerak payah. Itu lagi dicek. Telepon dari belum ada. Ini masyarakat so tangani sendiri. So pake air samua, so basiram. Jangan-jangan ada tidur samua, Pak. Coba kwa evaluasi atau oto so abis minyak. Ini bahaya, Pak kalau begini.”
Pernyataan tersebut kemudian mendapat respons dari petugas Damkar Kota Bitung.
Mereka tidak terima dengan bagian pernyataan yang menyebut adanya kemungkinan petugas sedang tidur ketika masyarakat membutuhkan pelayanan pemadaman.
Berdasarkan informasi yang disampaikan salah satu petugas Damkar, kondisi kerja personel selama ini justru cukup padat.
Petugas mengaku hampir tidak memiliki waktu istirahat penuh karena laporan mengenai kejadian kebakaran dapat datang sewaktu-waktu dan harus segera ditindaklanjuti.
Petugas juga menyesalkan apabila kerja mereka kemudian dipersepsikan seolah-olah tidak menjalankan tugas ketika terdapat keterlambatan penanganan sebuah laporan.
Mereka menilai situasi di lapangan perlu dilihat secara utuh sebelum muncul penilaian terhadap kinerja personel.
Sementara itu, Nabsar Badoa saat dikonfirmasi mengaku tidak mengetahui kedatangan personel Damkar yang membawa sebanyak tiga mobil pemadam dan memarkirkan kendaraan tersebut di sekitar kediamannya di Madidir.
Saat itu, Nabsar mengatakan dirinya sedang berada di gereja.
Menurut Nabsar, kedatangan personel Damkar tersebut bertujuan melakukan klarifikasi terkait ketidakhadiran petugas di lokasi ketika laporan kebakaran disampaikan.
“Anak-anak Madidir itu mau klarifikasi mengenai dorang nda datang,” kata Nabsar Badoa, Kamis (3/9/2026)
Namun, dalam proses klarifikasi tersebut, Nabsar mengatakan bahwa persoalan yang terjadi ternyata tidak sepenuhnya seperti yang diperkirakan sebelumnya.
Ia menjelaskan bahwa salah seorang ibu Kowal telah membatalkan permintaan bantuan setelah masyarakat di lokasi melakukan penanganan secara mandiri.
“Ternyata salah satu ibu Kowal so kase batal, karena kita so sambung slang dari rumah,” lanjut Nabsar.
Menurut informasi yang diperoleh dari salah satu petugas Damkar, lokasi yang terbakar merupakan tempat pembuangan sampah.
Kondisi tersebut menjadi salah satu bagian dari informasi yang perlu diperhatikan dalam melihat kronologi kejadian secara keseluruhan.
Aksi protes petugas Damkar tersebut pada dasarnya merupakan bentuk solidaritas sekaligus penyampaian keberatan terhadap pernyataan yang mereka anggap tidak menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Para petugas berharap masyarakat maupun pihak lain yang memberikan penilaian terhadap kinerja Damkar dapat memahami situasi kerja personel ketika menerima laporan kebakaran.
Petugas pemadam kebakaran dituntut bergerak cepat setiap kali menerima informasi mengenai kebakaran.
Namun, dalam pelaksanaannya, penanganan di lapangan juga sangat bergantung pada informasi awal, kondisi lokasi, status laporan serta perkembangan situasi ketika petugas tiba atau ketika laporan dibatalkan oleh pihak yang berada di lokasi.
Karena itu, komunikasi antara masyarakat, petugas Damkar dan pihak terkait menjadi sangat penting.
Informasi yang jelas sejak awal dapat membantu petugas menentukan langkah penanganan dan menghindari kesalahpahaman antara masyarakat dengan personel pemadam kebakaran.
Persoalan ini sekaligus menjadi perhatian terhadap pentingnya koordinasi dalam pelayanan penanggulangan kebakaran di Kota Bitung.
Di satu sisi, masyarakat membutuhkan respons cepat ketika terjadi kebakaran. Di sisi lain, petugas Damkar juga berharap beban dan kondisi kerja mereka dapat dipahami secara proporsional.
Bagi petugas Damkar, dukungan dan komunikasi yang baik menjadi bagian penting dalam menjalankan tugas penyelamatan serta menjaga keselamatan masyarakat Kota Bitung.