Anggota DPRD Fraksi PPP Kota Pasuruan Kritik Keras Penanganan Jalur Maut Jl.Gatot Subroto, Desak Truk Besar Dialihkan ke Tol
Kota Pasuruan, indo-news.id – Kebijakan pengalihan arus lalu lintas akibat proyek perbaikan Jembatan Bukwedi (BOK Wedi) yang menghubungkan Kecamatan Kraton dan Kelurahan Kebonagung terus menuai sorotan. Jalan Gatot Subroto yang dijadikan jalur alternatif kini disebut warga sebagai “jalur maut” setelah dipadati kendaraan bertonase berat dan memicu serangkaian kecelakaan fatal yang telah merenggut korban jiwa, Minggu (7/6/2026).
Kritik keras kali ini datang dari Anggota DPRD Kota Pasuruan Fraksi PPP, H. Aris Ubaidillah. Politisi yang juga berdomisili di sekitar Jalan Gatot Subroto tersebut mengaku merasakan langsung dampak buruk pengalihan arus yang telah berlangsung hampir dua bulan terakhir.
Menurutnya, kondisi jalan yang berada di kawasan permukiman itu tidak dirancang untuk menampung lalu lintas kendaraan berat dalam jumlah besar. Akibatnya, aktivitas warga terganggu dan keselamatan pengguna jalan semakin terancam.
“Pengalihan kendaraan besar ke jalan ini sangat mengganggu dan mengancam nyawa. Saya tahu sendiri dampaknya. Anak saya kalau mau menyeberang jalan untuk mengaji saja harus menunggu 15 sampai 20 menit karena arus kendaraan sangat padat dan melaju kencang,” ungkap Aris, Sabtu (6/6/2026).
Aris mengaku telah berkomunikasi dengan berbagai pihak, termasuk Wali Kota Pasuruan dan pimpinan DPRD Kota Pasuruan. Namun hingga kini, belum ada langkah nyata yang mampu mengurangi kepadatan kendaraan berat di Jalan Gatot Subroto.
Ia menyebut dirinya bersama anggota DPRD lainnya kerap menerima keluhan hingga cibiran dari warga yang kecewa karena persoalan tersebut belum terselesaikan. Meski demikian, kritik masyarakat justru menjadi motivasi untuk terus memperjuangkan aspirasi warga.
Karena itu, Aris mendorong RT, RW, tokoh masyarakat dan warga terdampak untuk menyampaikan tuntutan resmi kepada pemerintah agar kendaraan bertonase besar segera dialihkan ke jalan tol, bukan sekadar menjadi rencana tanpa realisasi.
Menurutnya, aksi penutupan jalan yang sempat diwacanakan warga sebelumnya masih bisa diredam. Namun apabila kembali terjadi kecelakaan fatal yang merenggut korban jiwa, dirinya menyatakan siap berdiri bersama masyarakat.
“Kami menerima hinaan warga sebagai lecutan. Jika sampai ada kejadian fatal lagi dan warga memilih memblokir jalan, saya pribadi akan ikut turun ke jalan demi warga,” tegasnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Wali Kota Pasuruan, H. Adi Wibowo, S.TP., M.Si., menyatakan bahwa proyek Jembatan Bukwedi merupakan proyek nasional yang melibatkan berbagai instansi sehingga penanganannya memerlukan koordinasi lintas sektoral.
“Dishub saja, sampeyan konfirmasi juga ke Balai Jalan, kepolisian, dan kontraktornya. Itu proyek nasional. Jadi ini bukan hanya Pemkot saja, tapi mengkoordinasikan dengan BBPJN, Jasa Marga, Polres dan kontraktor,” jawabnya.
Mas Adi juga mengklaim bahwa simulasi pengalihan arus sebenarnya sudah dilakukan dengan mengarahkan kendaraan melalui Jalan Pahlawan menuju Wironini. Namun berdasarkan pantauan di lapangan, rekayasa lalu lintas tersebut hanya berlangsung sesaat setelah kecelakaan maut yang menewaskan pasangan suami istri warga Krapyakrejo beberapa waktu lalu.
Tak lama berselang, kendaraan bertonase besar kembali melintas dan mendominasi Jalan Gatot Subroto.
Keluhan serupa juga disampaikan Ketua DPRD Kota Pasuruan. Ia mengaku telah menyampaikan persoalan tersebut kepada instansi terkait setelah terjadinya sejumlah kecelakaan maut di ruas jalan tersebut.
“Saya sudah menyampaikan ke dinas terkait soal beberapa insiden maut di Jalan Gatot Subroto. Selayaknya dipakai satu jalur saja untuk mengurangi kepadatan. Namun sampai sekarang belum ada realisasi pengalihan arus tersebut,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Dinas Perhubungan Kota Pasuruan maupun Satlantas Polres Pasuruan Kota belum memberikan keterangan resmi terkait evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pengalihan arus yang kini dikenal warga sebagai “jalur maut” Jalan Gatot Subroto.
Masyarakat kini menunggu langkah konkret pemerintah dan seluruh pihak terkait sebelum kembali muncul korban jiwa akibat padatnya lalu lintas kendaraan berat di jalur tersebut.(Koko)