Perumda Duasudara Tutup Sementara Pasokan Air dari Danowudu Usai Gempa M7,7
BITUNG, Indo-news.id — Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara pada Senin (8/6/2026) pagi tidak hanya memicu kewaspadaan terhadap potensi tsunami, tetapi juga berdampak pada salah satu sumber air baku utama di Kota Bitung.
Pasca-gempa, kondisi air di Mata Air Danowudu dilaporkan mengalami perubahan warna menjadi keruh sehingga Perumda Air Minum Duasudara Kota Bitung mengambil langkah cepat dengan menghentikan sementara penyaluran air dari sumber tersebut.
Direktur Perumda Air Minum Duasudara Kota Bitung, Alfred Salindedo SE MM, turun langsung ke lokasi sumber mata air Danowudu bersama tim teknis untuk melakukan pemantauan dan pemeriksaan kondisi sumber air setelah terjadinya gempa.
Menurut Alfred, perubahan kondisi air mulai terpantau tidak lama setelah gempa berkekuatan besar tersebut terjadi.
Hasil pemantauan awal menunjukkan air yang biasanya jernih berubah menjadi keruh, sehingga berpotensi memengaruhi kualitas air yang akan disalurkan kepada pelanggan.
“Benar, setelah gempa terjadi, air di sumber mata air Danowudu berubah menjadi keruh,” ujar Alfred saat dikonfirmasi.
Mata Air Danowudu merupakan salah satu sumber air baku penting yang selama ini menyuplai kebutuhan air bersih bagi ribuan pelanggan Perumda Air Minum Duasudara di Kota Bitung.
Oleh karena itu, setiap perubahan kualitas air harus segera ditindaklanjuti untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap pelayanan kepada masyarakat.
Sebagai langkah antisipasi, Perumda Air Minum Duasudara memutuskan untuk menghentikan sementara proses distribusi air dari sumber tersebut.
Kebijakan ini diambil guna memastikan bahwa air yang diterima pelanggan tetap memenuhi standar kualitas dan keamanan yang berlaku.
“Kami sementara mengupayakan berbagai langkah antisipasi agar kualitas air yang diterima masyarakat tetap terjaga. Untuk sementara, penyaluran ke pelanggan dari sumber mata air ini kami tutup,” kata Alfred.
Ia menjelaskan bahwa penghentian sementara distribusi bukan disebabkan oleh kerusakan instalasi, melainkan sebagai langkah preventif untuk menjaga mutu air bersih yang dikonsumsi masyarakat.
Tim teknis saat ini terus melakukan pemantauan kondisi sumber air serta pemeriksaan terhadap tingkat kekeruhan yang terjadi pasca-gempa.
Fenomena perubahan warna air menjadi keruh setelah gempa bumi bukan hal yang tidak biasa.
Getaran kuat akibat aktivitas tektonik dapat menyebabkan sedimen di dalam tanah atau dasar sumber mata air teraduk dan terbawa ke aliran air.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi kejernihan air dalam jangka waktu tertentu hingga situasi kembali stabil.
Perumda Air Minum Duasudara memastikan bahwa pemantauan akan dilakukan secara intensif hingga kondisi sumber mata air Danowudu kembali normal.
Selain itu, berbagai langkah teknis juga disiapkan untuk menjamin kualitas air sebelum distribusi kembali dibuka kepada pelanggan.
“Kami mohon pengertian pelanggan. Ini langkah pencegahan agar masyarakat tetap mendapatkan air yang layak dan aman. Setelah kondisi sumber kembali normal dan hasil pemeriksaan teknis menunjukkan air sudah memenuhi standar, distribusi akan segera dibuka kembali,” tegas Alfred.
Hingga saat ini, pihak Perumda belum menyampaikan estimasi waktu normalisasi distribusi dari sumber mata air Danowudu.
Namun, masyarakat diminta tetap tenang dan mengikuti informasi resmi yang akan disampaikan perusahaan terkait perkembangan kondisi sumber air tersebut.
Perumda Air Minum Duasudara juga mengimbau pelanggan untuk menggunakan cadangan air secara bijak selama masa penghentian sementara distribusi berlangsung.
Sementara itu, tim teknis terus melakukan evaluasi lapangan guna memastikan pelayanan air bersih kepada masyarakat Kota Bitung dapat kembali berjalan normal secepatnya.
Langkah cepat yang dilakukan Perumda Air Minum Duasudara ini menjadi bagian dari upaya mitigasi pascabencana untuk menjaga kualitas pelayanan publik sekaligus melindungi kesehatan masyarakat dari potensi penggunaan air yang belum memenuhi standar kelayakan.