Kota Pasuruan, indo-news.id – Kekecewaan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi BEM Pasuruan Raya bersama PC PMII Pasuruan memuncak pada Rabu (23/9/2026) malam. Setelah bertahan hingga pukul 19.00 WIB tanpa kepastian bertemu pimpinan dewan, mahasiswa akhirnya menyatakan menyegel Gedung DPRD Kota Pasuruan.
Aksi tersebut merupakan bagian dari gerakan “September Melawan” dan “September Gelap”. Mahasiswa menyuarakan sejumlah persoalan yang mereka nilai krusial, di antaranya krisis air bersih dan kekeringan, pemenuhan Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (Ekosob) masyarakat, serta sorotan terhadap penggunaan anggaran untuk fasilitas pejabat yang disebut mencapai ratusan juta rupiah.
Usai melakukan orasi di depan Kantor Pemerintah Kota Pasuruan, massa kemudian bergerak menuju Gedung DPRD Kota Pasuruan.
Di lokasi tersebut, mahasiswa meminta Ketua DPRD Kota Pasuruan hadir secara langsung untuk berdialog dan memberikan tanggapan atas berbagai tuntutan yang mereka sampaikan.
Namun hingga batas waktu yang ditentukan, Ketua DPRD Kota Pasuruan tidak kunjung menemui massa. Situasi tersebut kemudian memicu kekecewaan mahasiswa.
Dalam orasi penutup di depan pintu gerbang Gedung DPRD Kota Pasuruan, koordinator aksi melontarkan kritik keras terhadap pimpinan legislatif.
“Catat sejarah pada hari ini, hingga pukul 19.00 WIB, Ketua DPRD Kota Pasuruan terbukti pengecut dan bersembunyi! Mereka menolak menemui masyarakatnya sendiri!” tegas koordinator aksi.
Ia juga menilai lembaga legislatif seharusnya hadir ketika masyarakat menyampaikan persoalan yang berkaitan dengan kepentingan publik.
“Hari ini terbukti mereka bukan wakil rakyat, melainkan kumpulan stempel birokrasi yang buta realita. Ketika rakyat menderita dan mengalami kekeringan mereka diam, tetapi ketika anggaran wakil rakyat naik mereka setuju. Saat rakyat menuntut pertanggungjawaban, mereka lari ketakutan!” tambahnya.
Setelah membacakan pernyataan sikap, Aliansi BEM Pasuruan Raya bersama PC PMII Pasuruan kemudian melakukan aksi penyegelan Gedung DPRD Kota Pasuruan.
Ketua DPRD Beri Klarifikasi
Sementara itu, saat dikonfirmasi wartawan indo-news.id melalui pesan WhatsApp, Ketua DPRD Kota Pasuruan memberikan klarifikasi terkait ketidakhadirannya di lokasi aksi.
Ia menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya sedang dalam perjalanan menuju Kota Pasuruan dari Surabaya dan bermaksud menemui massa aksi setelah tiba di kantor.
“Tadi sudah saya sampaikan, saya perjalanan dari Surabaya 40 menit sampai kantor akan menemui. Ternyata para pendemo belum 40 menit sudah disegel,” ujar Ketua DPRD melalui pesan WhatsApp.
Ia menambahkan, saat itu dirinya sudah keluar dari ruas tol dan dalam perjalanan menuju kantor DPRD.
“Waktu itu sudah keluar exit tol Sutojayan,” lanjutnya.
Terkait kondisi Gedung DPRD yang disegel massa, Ketua DPRD menyampaikan bahwa akses tersebut nantinya akan dibuka kembali.
“Ya nanti kita buka besok jam kerja untuk pelayanan,” katanya.
Klarifikasi tersebut menunjukkan adanya perbedaan waktu dan persepsi antara massa aksi dengan pimpinan DPRD. Mahasiswa menilai mereka telah menunggu hingga batas waktu yang ditentukan, sementara Ketua DPRD menyatakan dirinya masih dalam perjalanan dari Surabaya dan hendak menemui massa setelah tiba di kantor.
Aksi kemudian ditutup dengan pekikan “Hidup Mahasiswa!” dan “Hidup Rakyat Indonesia!”. Massa menegaskan akan terus mengawal tuntutan serta berbagai persoalan publik yang mereka soroti di Kota Pasuruan.(Koko)