Tangani Perkelahian Antar Pelajar, Kadis Dikda Sulut Yahya Rondonuwu Turun ke SMKN 6 Manado

0

SULUT – Belum lama dilantik sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Utara, Yahya Rondonuwu langsung bergerak cepat turun langsung ke sekolah-sekolah untuk melihat kondisi pendidikan sekaligus mendengar berbagai persoalan yang dihadapi para guru dan siswa.

‎SMK Negeri 6 Manado menjadi sekolah kedua yang dikunjungi Yahya Rondonuwu setelah dirinya resmi dipercaya memimpin Dinas Pendidikan Sulut. Sebelumnya, ia telah lebih dahulu menyambangi SMA Negeri 1 Manado.

‎Didampingi Kepala Bidang SMK, Join Entiman, Yahya Rondonuwu disambut Kepala SMK Negeri 6 Manado Altje Sasale dan bertatap muka dengan jajaran guru SMK Negeri 6 Manado.

Kunjungan tersebut juga menjadi momentum bagi Yahya untuk menyoroti persoalan tawuran dan aksi kekerasan antarpelajar yang sempat ramai di media sosial beberapa waktu lalu, termasuk yang melibatkan siswa SMK Negeri 6 dan SMK Negeri 2 Manado.

‎Yahya mengungkapkan, begitu informasi mengenai kejadian tersebut muncul di media sosial, dirinya langsung berkoordinasi dengan jajaran internal Dinas Pendidikan Sulut. Ia bahkan menghubungi langsung kedua kepala sekolah untuk mengetahui kronologi dan langkah penanganan yang telah dilakukan.

‎“Ketika kejadian ini muncul di media sosial, beberapa pihak menyampaikan kepada saya. Saat itu juga saya langsung berkoordinasi dan menghubungi pejabat internal terkait,” ujar Yahya, Senin 10 Agustus 2026.

‎Ia kemudian meminta penjelasan langsung dari kepala sekolah SMK Negeri 6 dan SMK Negeri 2 mengenai kronologi, latar belakang kejadian hingga langkah penanganan yang telah ditempuh.

‎Menurutnya, persoalan seperti tawuran pelajar tidak boleh dianggap sebagai kejadian insidental semata. Jika tidak ditangani secara tepat, dampaknya dapat menjadi persoalan yang lebih panjang di kemudian hari.

‎“Bagi saya, kasus-kasus seperti ini walaupun bersifat insidentil, akan berdampak panjang ke depan kalau tidak ditangani. Prosedurnya bagaimana, tindak lanjutnya seperti apa, pembinaannya seperti apa,” tegasnya.

‎Yahya juga memastikan penanganan tidak berhenti pada tindakan represif. Jika ditemukan unsur kriminalitas, pihak sekolah harus berkoordinasi dengan kepolisian. Namun, di sisi lain, pembinaan terhadap siswa tetap menjadi bagian penting yang tidak boleh ditinggalkan.

‎Ia mengapresiasi langkah sekolah yang tidak membiarkan persoalan tersebut berlalu begitu saja, termasuk adanya koordinasi dengan aparat kepolisian.

‎“Ini kan langkah represif sebenarnya. Kalau dari kronologi kejadian adanya penyerangan, perkelahian, dan yang lebih mengkhawatirkan ketika penyerangan terjadi di sekolah, saya ingin memastikan tidak ada korban, tidak ada yang luka-luka,” katanya.

‎Ke depan, Dinas Pendidikan Sulut akan mendorong langkah pencegahan melalui pendampingan, sosialisasi dan edukasi mengenai mitigasi konflik di lingkungan sekolah.

‎Yahya menilai pendekatan persuasif dan humanis perlu diperkuat agar siswa tidak hanya diberikan hukuman ketika melakukan kesalahan, tetapi juga disentuh dengan pembinaan yang mampu membentuk karakter mereka.

‎“Jangan sampai terjadi lagi. Terkait dengan cara-cara santun yang coba kita sampaikan, sehingga hal-hal seperti ini minimal berkurang. Bahkan kalau bisa dihindari, tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMK 6 Altje Salele yg menerima langsung kunjungan Kepala Dinas Pendidikan Yahya bilang bahwa pihaknya setelah kejadian tersebut langsung melakukan penelusuran dan penanganan terhadap siswa yang bersangkutan.

“Kami sangat mengapresiasi atas perhatian Bapak Kepala Dinas Yahya Rondonuwu atas peristiwa ini. Kami juga langsung bergerak cepat menangani permasalahan ini, dengan menelusuri semua aspek keterlibatan siswa, dan kami memang mendapati seorang siswa SMK 6 yang terlibat dalam tawuran tersebut. Kami langsung melakukan pembinaan, dan menyerahkan permasalahan ini kepada pihak yang berwajib, dan memberikan semua informasi mengenai kejadian ini.” jelas Altje.

Seperti diketahui, pada Jumat pagi, terjadi penyerangan puluhan siswa SMK 2, yang melemparkan bebatuan di kaca dan beberapa bagian sekolah SMK 6, yang menyebabkan pecahnya kaca jendela di salah satu ruang kelas SMK 6. Hal ini diperkuat dengan keterangan sejumlah siswa dan warga yang tinggal di sekitar SMK 6.

Altje Salele berharap agar persoalan ini dapat segera diselesaikan, dan berjanji akan memberikan sangsi administratif kepada siswa jika ditemukan melakukan kesalahan dalam kejadian ini.

“Kami telah menyerahkan semuanya kepada pihak Polsek Wanea, yg telah datang dan melakukan penyelidikan dan penanganan atas peristiwa ini. Kami berharap semuanya bisa berakhir dengan baik,” pungkasnya.