Setahun SRT 2 Kota Pasuruan, Dari Sekolah Rintisan Kini Mendidik 320 Siswa
Kota pasuruan, indo-news.id – Memasuki satu tahun perjalanan, Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Kota Pasuruan terus menunjukkan perkembangan dalam memberikan akses pendidikan sekaligus membangun harapan baru bagi masyarakat.
Momentum satu tahun tersebut dirayakan melalui kegiatan Sarasehan bertema “Dampak Sekolah Rakyat bagi Seluruh Lapisan Masyarakat di Kota Pasuruan”, Selasa (1/9/2026), yang berlangsung di Aula SRT 2 Kota Pasuruan.
Kegiatan yang digagas Kementerian Sosial tersebut dihadiri jajaran Forkopimda, Kepala Dinas Sosial Kota Pasuruan Ir. Yudie Andi Prasetya, M.Si., Kepala Dinas Pendidikan, camat, Lurah Purworejo, wali murid, para guru, serta media.
Sarasehan menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan SRT 2 Kota Pasuruan sejak awal dirintis hingga berkembang dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
Kepala SRT 2 Kota Pasuruan, Yuli Prihatini, S.Pd., menyampaikan bahwa perjalanan sekolah selama satu tahun penuh dengan proses, pembelajaran, serta berbagai tantangan.
“Kami berproses dari nol. Berproses dari tidak punya apa-apa. Input siswa kami memang berbeda berdasarkan asesmen yang sudah dilakukan. Kami memulai seperti bayi, merangkak dan belajar,” ujar Yuli dengan mata berkaca-kaca.
Pada awal berdirinya, SRT 2 Kota Pasuruan merupakan sekolah rintisan dengan jumlah 50 siswa existing. Seiring dengan perkembangan program, jumlah peserta didik kini bertambah secara signifikan dengan hadirnya 270 siswa baru.
Dengan penambahan tersebut, saat ini total siswa SRT 2 Kota Pasuruan mencapai 320 siswa.
Yuli juga menceritakan bahwa pada masa awal pelaksanaan, kegiatan pendidikan SRT 2 berlangsung di gedung SDN Gadang Samping 2. Ia menyampaikan apresiasi kepada Presiden Republik Indonesia dan Pemerintah Kota Pasuruan yang telah memberikan dukungan serta memfasilitasi sarana awal bagi pelaksanaan kegiatan pendidikan.
Menurut Yuli, konsep pendidikan di SRT memiliki karakteristik yang berbeda dengan sekolah umum. Selain memberikan pendidikan karakter dan pengetahuan umum, SRT juga memberikan perhatian terhadap pendidikan vokasional serta konsep multi-exit program.
Konsep tersebut diharapkan dapat membekali siswa dengan keterampilan yang sesuai dengan potensi masing-masing, sehingga setelah menyelesaikan pendidikan mereka memiliki berbagai pilihan untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.
“Fokus kami ada di pendidikan karakter untuk membentuk generasi positif. Lalu ada pendidikan vokasi agar anak-anak punya skill. Harapannya mereka bisa keluar dari kemiskinan,” jelasnya.
Selama satu tahun perjalanan, para guru dan siswa telah melewati berbagai pengalaman. Mulai dari membangun sistem pendidikan dari awal, menyesuaikan dengan karakteristik peserta didik, hingga terus melakukan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Banyak sekali pembelajaran yang kami dapat dari proses ini,” tambah Yuli.
Kegiatan sarasehan berlangsung dengan sejumlah rangkaian, mulai dari pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan Kepala Dinas Sosial, pemaparan Kepala SRT 2 Kota Pasuruan, sesi diskusi, hingga penandatanganan berita acara sebagai simbol komitmen bersama.
Dengan bertambahnya jumlah peserta didik dari 50 siswa rintisan menjadi 320 siswa, SRT 2 Kota Pasuruan memasuki babak baru dalam perjalanan pendidikannya.
Keberadaan SRT diharapkan tidak hanya menjadi tempat bagi siswa memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, pengembangan keterampilan dan kemandirian, sekaligus membuka peluang masa depan yang lebih baik.
Satu tahun perjalanan menjadi pijakan bagi SRT 2 Kota Pasuruan untuk terus berbenah dan berkembang. Dengan dukungan pemerintah, tenaga pendidik, orang tua dan seluruh elemen masyarakat, sekolah ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan generasi yang berkarakter, terampil dan memiliki masa depan yang lebih baik.(Koko)