Bus Antre Solar, Penumpang Tujuan Bitung Kena Tarif Mikrolet Lebih Mahal

0

BITUNG, Indo-news.id—Kelangkaan BBM solar kembali menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat. 

Kali ini, dampaknya dirasakan langsung para penumpang yang hendak bepergian menuju Kota Bitung. 

Sejumlah bus yang seharusnya mengangkut penumpang dari Terminal Paal Dua, Manado, justru belum dapat melakukan perjalanan karena harus mengantre untuk mendapatkan bahan bakar jenis solar.

Kondisi tersebut terjadi pada Senin (10/8/2026) pagi. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah kendaraan bus yang seharusnya melakukan pemuatan penumpang di Terminal Paal Dua dikabarkan masih berada dalam antrean SPBU untuk mendapatkan solar.

Akibatnya, penumpang yang telah menunggu di terminal harus menghadapi ketidakpastian waktu keberangkatan. 

Mereka yang memiliki kepentingan dan aktivitas di Kota Bitung pun terpaksa mencari alternatif transportasi lain agar tidak semakin terlambat.

Salah satu pilihan yang tersedia adalah menggunakan kendaraan umum mikrolet. 

Namun, pilihan tersebut justru membuat beban biaya perjalanan penumpang meningkat. 

Tarif yang harus dikeluarkan disebut lebih mahal dibandingkan ongkos yang biasanya dibayarkan ketika menggunakan bus tujuan Bitung.

Situasi ini pun menuai kekecewaan dari sejumlah penumpang. 

Mereka bukan hanya mengeluhkan keterlambatan perjalanan, tetapi juga mempertanyakan kondisi distribusi BBM solar yang kembali menyulitkan kendaraan angkutan umum.

Bagi penumpang yang menggunakan transportasi umum untuk bekerja, bersekolah, berdagang maupun menjalankan aktivitas lainnya, keterlambatan keberangkatan bukan persoalan sederhana. 

Waktu perjalanan yang seharusnya dapat dipastikan sejak pagi menjadi tidak menentu hanya karena kendaraan belum mendapatkan bahan bakar.

“Seharusnya kendaraan umum mendapat prioritas khusus agar tidak terjadi keterlambatan bagi masyarakat yang akan melakukan aktivitas,” keluh salah satu penumpang.

Kelangkaan solar juga dinilai tidak hanya berdampak terhadap operator angkutan, tetapi akhirnya merembet langsung kepada masyarakat sebagai pengguna jasa transportasi. 

Ketika bus tidak bisa beroperasi sesuai jadwal, penumpang menjadi pihak yang harus menanggung konsekuensinya.

Kondisi di Terminal Paal Dua tersebut memperlihatkan bagaimana persoalan ketersediaan solar dapat memicu efek berantai. 

Bus yang tidak memperoleh BBM tidak dapat segera melakukan pemuatan, penumpang kehilangan pilihan transportasi sesuai jadwal, sementara mereka yang membutuhkan perjalanan cepat terpaksa beralih menggunakan kendaraan lain dengan biaya lebih tinggi.

Persoalan tersebut semakin terasa bagi penumpang tujuan Kota Bitung yang memiliki jarak perjalanan cukup jauh. 

Jika harus menggunakan mikrolet dengan tarif lebih mahal, pengeluaran transportasi masyarakat otomatis ikut membengkak.

Situasi ini juga menjadi perhatian karena angkutan umum merupakan salah satu moda transportasi yang sangat dibutuhkan masyarakat untuk mobilitas antarwilayah. 

Ketika pasokan solar terganggu, pelayanan transportasi ikut terganggu dan masyarakat menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya.

Para penumpang berharap persoalan kelangkaan BBM solar tidak berlangsung berlarut-larut. 

Mereka menginginkan adanya langkah konkret untuk memastikan ketersediaan bahan bakar bagi kendaraan angkutan umum sehingga operasional bus dapat kembali berjalan normal dan jadwal perjalanan masyarakat tidak terganggu.

Selain memastikan ketersediaan BBM, penumpang juga berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat memperhatikan mekanisme distribusi solar bagi kendaraan umum. 

Dengan demikian, kendaraan yang melayani kebutuhan transportasi masyarakat tidak harus menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean SPBU.

Peristiwa di Terminal Paal Dua ini menjadi gambaran nyata bahwa persoalan BBM solar bukan hanya menyangkut kendaraan dan operator. 

Ketika pasokan tersendat, dampaknya langsung terasa pada mobilitas masyarakat, waktu perjalanan hingga biaya yang harus dikeluarkan penumpang.

Jika kondisi tersebut terus berulang tanpa solusi, bukan tidak mungkin masyarakat akan semakin terbebani. 

Penumpang yang seharusnya cukup membayar ongkos bus justru harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan alternatif perjalanan.

Karena itu, persoalan solar langka diharapkan segera mendapat perhatian serius dari pihak terkait. 

Bagi masyarakat, yang dibutuhkan bukan sekadar kepastian adanya BBM, tetapi juga kepastian bahwa angkutan umum dapat beroperasi tepat waktu dengan tarif yang tetap terjangkau.