BKK Bitung Ajak Warga Kenali Gejala dan Cara Cegah Hantavirus
BITUNG, Indo-news.id — Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Bitung meminta masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Hantavirus menyusul munculnya pemberitaan internasional mengenai kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) di sebuah kapal pesiar mancanegara yang dilaporkan menelan korban jiwa.
Kepala BKK Bitung melalui Agung Widiyanto menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan, namun harus memahami bagaimana virus tersebut dapat menular agar langkah pencegahan bisa dilakukan sejak dini.
“Hantavirus bukan penyakit baru. Penularannya umumnya berasal dari kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, baik melalui kotoran, air liur, maupun debu yang sudah terkontaminasi,” kata Agung, Rabu (13/5/2026).
Menurut Agung, Hantavirus merupakan kelompok virus yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius pada manusia.
Salah satu jenis yang menjadi perhatian dunia adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu penyakit yang menyerang sistem pernapasan dan dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani dengan cepat.
Selain HPS, terdapat pula tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang lebih banyak ditemukan di kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Jenis ini diketahui menyerang ginjal dan dapat menimbulkan komplikasi serius apabila pasien terlambat mendapatkan penanganan medis.
Agung menjelaskan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga saat ini masih menilai risiko penyebaran global Hantavirus tergolong rendah.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada karena virus tersebut dapat berkembang di lingkungan yang tidak higienis dan memiliki populasi tikus cukup tinggi.
“Walaupun risiko globalnya masih rendah, kewaspadaan tetap penting. Pencegahan paling efektif adalah menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hingga kini tercatat sebanyak 23 kasus Hantavirus terkonfirmasi di Indonesia yang tersebar di sembilan provinsi.
Mayoritas kasus yang ditemukan merupakan tipe HFRS.
Data tersebut menjadi perhatian pemerintah, termasuk BKK Bitung, mengingat wilayah pelabuhan dan kawasan perdagangan memiliki potensi lebih tinggi terhadap keberadaan tikus sebagai pembawa virus.
Karena itu, masyarakat diminta memperhatikan kebersihan lingkungan rumah maupun tempat usaha, terutama di area yang rawan menjadi sarang tikus seperti gudang, pasar tradisional, tempat penyimpanan bahan makanan, hingga kawasan pelabuhan.
Agung mengatakan salah satu langkah penting pencegahan adalah memastikan makanan disimpan dalam wadah tertutup rapat agar tidak terkontaminasi tikus.
Selain itu, warga juga diminta menutup celah atau lubang yang berpotensi menjadi akses masuk tikus ke dalam rumah maupun bangunan usaha.
“Makanan harus disimpan di tempat tertutup. Kemudian lubang atau celah yang memungkinkan tikus masuk perlu segera ditutup supaya populasi tikus di lingkungan bisa dikendalikan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati saat membersihkan area yang berdebu atau lama tidak digunakan.
Debu yang tercemar kotoran tikus berpotensi menjadi media penularan apabila terhirup manusia.
Menurutnya, cara pembersihan yang aman adalah menggunakan kain pel basah atau cairan disinfektan agar partikel debu tidak beterbangan di udara.
“Saat membersihkan area berdebu jangan langsung disapu kering karena debunya bisa beterbangan. Sebaiknya gunakan kain pel basah atau disinfektan,” katanya.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, BKK Bitung juga meminta masyarakat mengenali gejala awal Hantavirus agar penanganan medis dapat dilakukan lebih cepat.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual, hingga gangguan pernapasan, terutama setelah seseorang beraktivitas di area yang diduga menjadi sarang tikus.
“Deteksi dini sangat penting supaya penanganan medis bisa segera dilakukan. Yang terpenting, masyarakat jangan mengabaikan gejala,” ujar Agung.
BKK Bitung memastikan pihaknya terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan instansi kesehatan terkait guna mengantisipasi potensi penyebaran penyakit zoonosis tersebut, khususnya di pintu masuk wilayah seperti pelabuhan dan kawasan transportasi internasional.
Masyarakat pun diimbau tetap tenang, tidak mudah percaya informasi yang belum terverifikasi, serta aktif menjaga sanitasi lingkungan sebagai langkah utama mencegah penyebaran Hantavirus.