ALFI ILFA dan TPK Bitung Ingatkan Dampak Kelangkaan Solar terhadap Ekonomi Sulawesi Utara

0

BITUNG, Indo-news.id—Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di Sulawesi Utara mulai menimbulkan dampak serius terhadap sektor logistik dan distribusi barang. 

Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Sulawesi Utara, Hi. Ramlan Ifran, yang menilai persoalan ini berpotensi memicu kenaikan harga bahan pokok apabila tidak segera ditangani.

Menurut Ramlan Ifran, distribusi logistik dari Pelabuhan Peti Kemas Bitung menuju berbagai daerah di Sulawesi Utara saat ini mengalami hambatan akibat armada angkutan barang kesulitan memperoleh pasokan solar. 

Banyak kendaraan logistik harus mengantre dalam waktu lama di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), sehingga proses pengiriman barang menjadi terlambat.

Ia menjelaskan, berdasarkan data yang dihimpun ALFI/ILFA Sulawesi Utara, terjadi peningkatan sekitar 15 persen arus barang, baik impor maupun domestik, yang masuk melalui Pelabuhan Bitung. 

Peningkatan aktivitas tersebut seharusnya menjadi indikator positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah. 

Namun, momentum itu justru terhambat akibat terbatasnya pasokan solar yang mengganggu operasional armada distribusi.

“Terjadi peningkatan sekitar 15 persen barang dari luar negeri maupun lokal yang masuk ke Bitung. Tetapi sangat disayangkan distribusi logistik terganggu karena kendaraan pengangkut harus mengantre solar di hampir semua SPBU,” ujar Ramlan Ifran, Selasa (14/7/2026)

Menurutnya, jika kondisi ini terus berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha logistik, tetapi juga masyarakat luas. 

Keterlambatan distribusi diperkirakan akan memengaruhi ketersediaan barang di pasar dan berpotensi menyebabkan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Ramlan bahkan memprediksi bahwa pada Agustus 2026 masyarakat dapat mulai merasakan dampak berupa kenaikan harga sejumlah komoditas akibat tersendatnya rantai pasok.

Karena itu, ia meminta Gubernur Sulawesi Utara, Kapolda Sulawesi Utara, dan Pangdam XIII/Merdeka untuk segera turun tangan mencari solusi agar distribusi BBM, khususnya solar, kembali normal sehingga aktivitas logistik dapat berjalan lancar.

Selain itu, Ramlan juga menyoroti dugaan masih adanya pelaku usaha yang seharusnya menggunakan BBM industri, namun justru memanfaatkan BBM subsidi yang diperoleh melalui pengepul.

Menurutnya, praktik tersebut perlu menjadi perhatian aparat dan instansi terkait karena dapat memperburuk kelangkaan solar yang saat ini dirasakan oleh sektor transportasi logistik.

Sementara itu, Kepala Terminal Peti Kemas (TPK) Bitung, Jusri, mengungkapkan bahwa dampak kelangkaan solar mulai terlihat pada operasional pelabuhan. 

Ia menjelaskan, saat ini Terminal Peti Kemas Bitung mengalami kondisi overcapacity, dengan tingkat utilisasi lapangan penumpukan (yard occupancy ratio) mencapai sekitar 87 persen.

Angka tersebut telah melampaui batas kapasitas operasional ideal yang berada di kisaran 65 persen, sehingga berpotensi menurunkan produktivitas pelayanan bongkar muat di terminal.

Menurut Jusri, terdapat dua faktor utama yang menyebabkan kondisi tersebut. 

Pertama, meningkatnya frekuensi kedatangan kapal niaga yang membawa berbagai komoditas penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Sulawesi Utara. 

Kedua, meningkatnya dwelling time atau lama waktu kontainer berada di terminal.

“Saat ini rata-rata dwelling time kontainer mencapai sekitar delapan hari, jauh di atas standar normal yang berkisar tiga hingga lima hari. Hal ini menunjukkan adanya hambatan dalam proses pengeluaran barang dari terminal,” jelas Jusri.

Ia menambahkan, apabila situasi ini tidak segera diatasi, sejumlah dampak serius dapat terjadi. 

Di antaranya terganggunya rantai pasok logistik dari pelabuhan menuju wilayah hinterland, potensi kelangkaan barang dan komoditas pokok di pasar domestik, meningkatnya tekanan inflasi akibat keterbatasan pasokan, hingga stagnasi operasional pelabuhan karena keterbatasan ruang penumpukan kontainer.

Jusri juga mengidentifikasi bahwa salah satu faktor eksternal yang memperburuk kondisi tersebut adalah terganggunya distribusi darat akibat kelangkaan BBM solar. 

Akibatnya, armada trucking tidak dapat beroperasi secara optimal untuk mengangkut kontainer keluar dari pelabuhan.

Baik ALFI/ILFA Sulawesi Utara maupun manajemen Terminal Peti Kemas Bitung berharap pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan dapat segera mengambil langkah konkret untuk menormalkan distribusi solar, memperlancar arus logistik, serta menjaga stabilitas pasokan barang dan harga kebutuhan pokok di Sulawesi Utara. 

Langkah cepat dinilai penting agar aktivitas perdagangan melalui Pelabuhan Bitung tetap berjalan optimal dan tidak menghambat pertumbuhan ekonomi daerah.