Hari Buruh 1 Mei: Vita Suci Rahayu Gaungkan Makna ‘Buruh yang Sesungguhnya’ di Tengah Realitas Sosial

0

Kota Pasuruan, indo-news.id – Momentum Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap 1 Mei dimanfaatkan Ketua Bawaslu Kota Pasuruan, Vita Suci Rahayu, untuk menyuarakan refleksi mendalam tentang makna “buruh” di Indonesia masa kini, Sabtu (02/05/2026).

Dalam pandangannya, definisi buruh tidak lagi sempit hanya pada pekerja sektor industri. Ia menilai, buruh kini hadir dalam berbagai lini kehidupan mulai dari sektor informal hingga ruang-ruang birokrasi dan politik.

“Buruh hari ini tidak hanya mereka yang bekerja di pabrik. Buruh ada di mana-mana di sektor informal, di ruang-ruang birokrasi, bahkan di ranah politik,” tegas Vita.

Sebagai alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Vita menyoroti bahwa buruh sejatinya adalah simbol kelompok yang tenaganya terus dimanfaatkan, namun belum sepenuhnya mendapatkan keadilan sosial dan ekonomi.

Buruh dalam Berbagai Wajah Perjuangan
Vita mengungkapkan, fenomena “buruh” kini menjelma dalam banyak bentuk.

Ia mencontohkan abdi negara yang bekerja tanpa kesejahteraan memadai, pekerja informal tanpa perlindungan hukum, hingga kader politik yang berjuang tanpa jaminan masa depan.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa perjuangan buruh belum benar-benar usai, bahkan semakin kompleks seiring perkembangan zaman.

Sorotan pada Hak Dasar yang Belum Tuntas
Lebih lanjut, Vita menegaskan bahwa esensi perjuangan buruh terletak pada terpenuhinya hak-hak dasar.

Ia menyebut sejumlah indikator utama, seperti pekerjaan yang layak, upah yang mencukupi, akses pendidikan berkualitas, serta lingkungan hidup yang bersih dan manusiawi.

Namun, ia menilai realitas di lapangan masih jauh dari ideal.

“Selama hak-hak sosial dan ekonomi belum terpenuhi, selama itu pula buruh akan terus ada—dalam berbagai bentuk,” ujarnya.

Ajakan untuk Kesadaran Kolektif
Dalam peringatan Hari Buruh tahun ini, Vita mengajak masyarakat untuk memperluas cara pandang terhadap makna buruh tidak hanya secara sektoral, tetapi juga struktural.

Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam memperjuangkan keadilan sosial sebagai bagian dari cita-cita bangsa.

“Hari Buruh bukan hanya seremoni, tetapi refleksi: siapa sebenarnya yang bekerja, siapa yang menikmati, dan siapa yang belum mendapatkan keadilan,” pungkasnya.(koko)