SULUT – Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dengan jumlah penduduk 2,74 juta jiwa dalam pelayanan bidang kesehatan ternyata masih kekurangan 569 dokter.
Gubernur Sulut Yulius Selvanus yang konsern bidang kesehatan masyarakatnya, mengambil solusi cepat untuk jangka pendek dan panjang.
Solusi jangka pendek, Gubernur Yulis Selvanus menyurat khusus dan melakukan pertemuan langsung dengan Presiden RI, Prabowo Subianto beberapa waktu lalu.
Langkah taktis ini diambil agar daerah memiliki kemandirian dalam mencetak dokter sendiri, sekaligus memangkas ketergantungan pasokan tenaga medis dari luar daerah.
Dimana menurut menurut Yulius Selvanus, kekurangan tenaga dokter untuk pelayanan kesehatan adalah bagaimana warga di pelosok hingga daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) bisa mengakses dokter dengan cepat tanpa harus turun gunung ke pusat kota.
Selain itu, kata Yulius Selvanus tantangan ini kian mendesak menyusul banyaknya kucuran bantuan rumah sakit baru dari pemerintah pusat serta naiknya tipe sejumlah RS di daerah.
”Kita di Sulut sudah mendapatkan bantuan rumah sakit dari pusat. Juga beberapa rumah sakit naik tipe, sehingga kita perlu tambahan dokter,” ungkap YSK.
Bagi YSK, infrastruktur fisik dan sumber daya manusia (SDM) harus berjalan beriringan.
Rumah sakit berstandar tinggi akan sia-sia jika tenaga medis di dalamnya tidak mencukupi untuk melayani masyarakat secara optimal.
Sebagai solusi jangka panjang, sebanyak tiga perguruan tinggi di Sulut diusulkan untuk membuka program pendidikan kedokteran baru.
Ketiga kampus tersebut adalah:
1. Universitas Negeri Manado (Unima) — Diproyeksikan sebagai proyek percontohan nasional dalam pengembangan pendidikan kedokteran daerah.
2. Universitas Katolik De La Salle
3. Universitas Klabat (Unklab)
Tak hanya itu, Universitas Muhammadiyah turut menyatakan kesiapan penuh untuk ikut ambil bagian dan mempersiapkan berbagai kebutuhan infrastruktur pendidikan seiring proyeksi pertumbuhan jumlah penduduk kedepan.