Ki Bata; Simbol Daya Feminitas

0

KOTAMOBAGU – Melihat bagaimana lagu Ki Bata karya Bernard Ginupit dihidupkan kembali dengan musik yang lebih kaya, visual kualitas tinggi dan pesan-pesan yang membuka luas ruang penafsiran, terasa memuaskan kerinduan kita pada karya seni yang mampu menghangatkan hati.

Lirik lagu Ki Bata bercerita tentang seorang perempuan cantik yang sedang menunggu dengan gelisah. Berdandan menanti seseorang tetapi hancur hati saat yang ditunggu tak juga tiba. Lirik ini, jika ditafsir secara harfiah kita akan dapati Ki Bata sebagai perempuan yang cantik dan rapuh. Yang berdandan, namun kemudian tidak bisa berbuat apapun kecuali menunggu.

Dalam penafsiran yang apa adanya, lagu ini terasa ringan dan sederhana, tetapi dalam tafsir feminitas, lirik ini adalah simbol yang penuh daya. Bukan gambaran kerapuhan tapi sesungguhnya adalah sifat-sifat pada unsur Yin dalam filosofi hidup bangsa Cina Kuno sejak 600 tahun sebelum masehi. Bukan gambaran sesuatu yang pasif dan tanpa daya tetapi sesungguhnya adalah sifat energi feminin dalam hukum polaritas yang menjelaskan tentang keseimbangan kosmos. Bahwa sesungguhnya segala sesuatu di alam raya diciptakan berpasangan dengan sifat yang saling berlawanan untuk menciptakan keseimbangan semesta.

Energi feminin dan energi maskulin dalam hukum polaritas memang digerakan oleh hal-hal yang sangat berbeda dan bertolak belakang. Maskulinitas digerakan oleh segala hal di luar dirinya. Berburu, mengejar pencapaian-pencapaian, mengejar kekuatan dan kekuasaan sangat menghidupkan kaum maskulin. Semakin banyak dia mengumpulkan harta, tahta, dan bahkan wanita semakin dia merasa berdaya.

Sedangkan feminitas digerakan oleh segala sesuatu yang mengarah ke dalam dirinya. Dengan sifat-sifat ke dalam seperti mencintai, merawat, memelihara, memperindah. Dengan sifat-sifat khas kaum feminine inilah kehidupan bertumbuh, berkembang (biak), menjadi banyak berlipat dalam damai dan keindahan. Lembut mengimbangi yang kokoh, cinta mengimbangi arogansi, penerimaan mengimbangi perburuan.

Di sini kita mahfum bahwa ternyata dalam ruang batin orang Mongondow, perempuan sejak lama sudah dilihat dan ditempatkan pada kodrat lahiriyah yang seharusnya. Diksi kodrat di sini tidak lagi dalam peristilahan yang merujuk pada ketidak berdayaan. Kodrat di sini kita tafsirkan sebagai ketetapan ilahiyah yang berdaya. Yang punya kekuatan menurut penciptaannya. Bahwa ornag mongondow lewat lirik Ki Bata menaruh nilai-nilai kelembutan penuh rasa malu yang anggun pada citra perempuan.

Berdandan dan menjadi cantik seperti dalam lirik Ki Bata bukanlah sesuatu yang dangkal tetapi adalah sifat hukum semesta yang hidup sejak awal kisah dan legenda manusia, sampai saat ini di mana industry mode dan kecantikan jadi bagian peradaban manusia. Memilih bertindak “menunggu” dalam lirik lagu ini juga bukan dipandang sebagai sesuatu yang pasif dan tidak berdaya, tetapi adalah simbol komitmen pada nilai-nilai tinggi penuh adab dan etika karena diam menunggu dalam hukum feminitas justru memilik daya menarik yang sama besar dengan gaya mendorong dalam ketetapan sifat maskulin.

Bagaimana bisa dalam proses pembuahan, proses paling spiritual, sel telur diam saja dalam tuba falopi menunggu ribuan sel jantan berburu mendekat dan sel telur hanya memilih yang terbaik. Dalam proses ini “diam menunggu” memiliki kekuatan ilahiyah yang sama besar dengan kemampuan berburu.
“Apa pekerjaan sia-sia?
Melawan cinta adalah pekerjaan yang sia-sia”
Theoresia Rumthe
Sama, melawan hukum alam adalah pekerjaan yang sia-sia.

Penulis : Nany Diansary Korompot