Golkar Sulut Punya Banyak Kader Terbaik, Tapi Saat Ini Tetty Paruntu Yang Amanah

0

SULUT – Partai Golongan Karya (Golkar) di tahun 2017 mengalami guncangan keras semenjak memasuki era reformasi, dimana Ketua umum Partai Golkar saat itu dipimpin Setya Novanto tersandunf kasus korupsi e-KTP.

Disaat perang terhadap kasus korupsi sedang getol-getolnya dan ini menjadi momok menakutkan bagi figur apalagi partai politik.

Guncangan kasus Setya Novanto tersebut berdampak besar pada elektabilitas partai secara nasional dan berdampak sampai daerah.

Dimasa itu, Golkar mengalami krisis kepercayaan dan ditambah dengan gesekan di internal.

Tahun 2017 tersebut Partai Golkar menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) pada akhir tahun 2017 untuk memilih ketua umum baru menggantikan Setya Novanto yang tersandung kasus korupsi e-KTP.

Situasi politik Partai Golkar di Indonesia pada tahun 2017 ditandai oleh pergantian kepemimpinan akibat masalah hukum yang menimpa Setya Novanto, serta upaya untuk memulihkan kepercayaan publik dan memperkuat konsolidasi internal menjelang tahun politik.

Khusus untuk Sulut, Christiany Eugenia Paruntu (CeP) atau kerap disapa Tetty Paruntu dipercaya lewat Musyawarah Daerah luar biasa (Musdalub),dilantik (29/11/2017) sebagai ketua Golkar Sulut.

Dengan mepetnya waktu untuk persiapkan pemenangan Pemilu 2019, karena Tetty waktu itu harus mengembalikan kepercayaan publik terhadap partai golkar dan dihimpit dengan elektabilitas Gerindra dan Nasdem yang kian naik secara nasional.

Sekretaris Golkar Sulut Raski Mokodompit menilai dengan sisa waktu yang sedikit dengan persoalan yang kompleks, Tetty Paruntu mampu membawa Golkar Sulut untuk bertahan, baik hasil Pilpres dan Pilcaleg.

“Hasil golkar di Pemilu 2019 memang secara nasional mengalami penurunan karena berbagai faktor tadi. Tapi untuk Sulut, Golkar masih mampu peroleh hasil signifikan jika dinilai dengan tantangan yang ada,”lugasnya.

Kompetitor yang maju saat itu bukanlah ecek-ecek, namun dalam jangka waktu dua tahun, menurut Raski, Tetty bertangan dingin mampu buahkan hasil.

Di Pemilihan Calon Legislatif (Pilcaleg) Pemilu untuk periode 2019-2024, partai Golkar Sulut peroleh 1 Kursi ke DPR RI dan
7 kursi DPRD Provinsi.

“Itu pun kompetitor yang ada figur-figur besar, karena Tetty Paruntu dalam berpolitik terhadap kompetitor tidak suka memakai cara saling menjatuhkan,”kisah Raski.

Di Pilcaleg Pemilu untuk periode 2024-2029, perolehan suara untuk ke DPR RI dari dapil Sulut 1 kursi dan ke DPRD Sulut 6 kursi menempatkan sebagai pimpinan DPRD Sulut.

Sementara itu, menanggapi Musda Golkar Sulut, Raski menyampaikan pesan politik Tetty Paruntu jelang Musda dalam waktu dekat ini.

“Secara khusus dalam kaitan Musda ini, Ketua Golkar Sulut Tetty Paruntu tegas menyampaikan dan mengingatkan kepada fungsionaris dan kader Golkar,”ungkapnya.

Kata Raski pesan yang pertama, Tetty Paruntu tidak pernah mengekang apalagi melarang terhadap figur yang berkeinginan untuk maju pemilihan Ketua DPD Golkar Sulut di Musdalub.

“Tetty Paruntu memberikan podium untuk mereka yang ingin bertarung, siapun itu golkar selalu terbuka,”lugas Raski.

Hanya saja kata Raski, Tetty Paruntu mengingatkan dalam pertarungan nanti, pasti akan berdinamika, diharapkan untuk melakukan itu pada forum dan tetap menjaga marwah partai.

“Jangan bersuara di media sosial, sehingga justru menimbulkan informasi yamg membias apalagi kemudian terjadi hoaks,”tegasnya.

Lanjut dikatakan Raski, untuk para pendukung calin yang akan maju dipersilahkan untuk menyuarakan dukungannya.

“Siapa mau dukung siapa, Silahkan. Tapi jangan saling menjelakan apalagi menyebar fitnah sesama kader sampai menggunakan media sosial,”tutur Raski.

Raski pun menilai kepemimpinan Tetty Paruntu di Partai Golkar layak dan pantas untuk keperiode berikutnya.

“Kader terbaik di Golkar Sulut banyak, tapi sampai saat ini yang amanah Tetty Paruntu,”tandasnya.