Gotong Royong di Sungai Tayap, Babinsa Ikut Kawal Pembangunan Jembatan Garuda

3

BOLMONG –  Di bawah terik matahari, adukan semen dan pasir terus diolah menjadi bagian dari sebuah jembatan yang kelak akan menghubungkan aktivitas warga. Tidak banyak kata di lokasi pembangunan Jembatan Garuda di Desa Werdi Agung Selatan, Kecamatan Dumoga Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow, Rabu (7/10/2026). Yang terlihat adalah kerja, gotong royong dan harapan yang perlahan diwujudkan menjadi sebuah akses permanen bagi masyarakat.

Memasuki hari ke-14 pembangunan, pekerjaan Jembatan Garuda Tahap VII yang berada di atas Sungai Tayap tersebut terus menunjukkan progres. Pada kegiatan hari ini, pekerjaan difokuskan pada melanjutkan pengecoran tiang jembatan.

Jembatan yang dibangun dengan konstruksi beton tersebut memiliki ukuran 10 meter x 4 meter. Keberadaannya diharapkan dapat memperkuat akses masyarakat sekaligus mendukung kelancaran mobilitas warga dan aktivitas ekonomi di wilayah Desa Werdi Agung Selatan.

Dalam proses pembangunan, Sertu I Wayan Dana, Babinsa Koramil 1303-07/Dumoga, turut hadir dan berperan aktif mendampingi pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

Kehadiran Babinsa tidak hanya menjadi bagian dari pengawasan wilayah, tetapi juga mencerminkan kedekatan prajurit TNI dengan masyarakat. Di tengah proses pekerjaan fisik, Babinsa ikut membantu menjaga komunikasi dan koordinasi sehingga kegiatan pembangunan dapat berjalan dengan baik.

“Kami hadir untuk membantu dan memastikan pekerjaan di lapangan berjalan dengan lancar. Pembangunan jembatan ini sangat penting bagi masyarakat karena nantinya dapat memberikan akses yang lebih baik. Kami berharap seluruh prosesnya berjalan aman, lancar, dan selesai sesuai dengan rencana sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” ujar Sertu I Wayan Dana.

Pembangunan Jembatan Garuda tersebut merupakan bagian dari program pembangunan jembatan pemerintah yang menjadi salah satu upaya memperkuat konektivitas masyarakat. Salah satu pembangunan jembatan dalam program tersebut berada di wilayah Bolaang Mongondow.

Bagi masyarakat, jembatan bukan hanya konstruksi beton yang berdiri di atas sungai. Ia menjadi penghubung antara satu sisi dengan sisi lainnya, antara aktivitas ekonomi dengan kesempatan, serta antara kebutuhan hari ini dan harapan kehidupan yang lebih baik.(Farisa)