Nobar “Makin Ditekan Makin Melawan” di Pasuruan Jadi Ruang Konsolidasi, Mahasiswa Soroti Kebebasan Sipil dan Tragedi Beji
Kota Pasuruan, indo-news.id – Sejumlah elemen mahasiswa dan masyarakat sipil di Pasuruan menggelar nonton bareng (nobar) sekaligus diskusi film dokumenter Makin Ditekan Makin Melawan, Senin malam. Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi dan konsolidasi lintas organisasi untuk membahas kondisi kebebasan sipil, penanganan aksi demonstrasi, serta dugaan kekerasan aparat. Minggu (4/10/2026).
Film dokumenter karya sineas asal Pasuruan, Faiz Benshadeq, tersebut mengangkat sejumlah peristiwa pascagelombang demonstrasi besar pada Agustus 2025. Film ini diproduksi Koreksi.org bersama KontraS, dengan dukungan Trend Asia dan Kurawal. Film berdurasi sekitar 41 menit itu sebelumnya telah diputar di sejumlah daerah dan menjadi bahan diskusi terkait kebebasan berekspresi serta dugaan kriminalisasi terhadap peserta aksi.
Dalam forum di Pasuruan, Faiz mengatakan film tersebut lahir dari keresahan terhadap kondisi demokrasi dan kebebasan menyampaikan pendapat. Ia mengajak generasi muda untuk tidak melupakan berbagai peristiwa yang terjadi setelah gelombang aksi pada Agustus 2025.
“Pertama, kami ingin mengajak kawan-kawan muda agar terus merawat ingatan bahwa pascagelombang aksi demo pada Agustus 2025, demokrasi Indonesia dijerumuskan ke jurang yang lebih dalam oleh rezim saat ini. Hak menyampaikan aspirasi masyarakat makin dibungkam,” ujar Faiz.
Ia juga memaparkan data penangkapan peserta aksi yang menurutnya menunjukkan tingginya tekanan terhadap masyarakat sipil. Data tersebut antara lain menyebut ribuan orang ditangkap dan sebagian di antaranya diproses melalui jalur hukum.
Sejumlah temuan mengenai penanganan demonstrasi Agustus 2025 memang sebelumnya menjadi perhatian organisasi masyarakat sipil. KontraS, misalnya, mencatat berbagai dugaan pelanggaran HAM pascaaksi, termasuk penangkapan, dugaan penyiksaan, serta penggunaan kekuatan secara berlebihan oleh aparat.
Menurut Faiz, film tersebut tidak dimaksudkan sekadar menjadi arsip visual, tetapi juga mendorong masyarakat untuk terus memperbincangkan persoalan kebebasan sipil.
“Film ini bertujuan agar masyarakat tetap semangat bersuara, menjadi gelombang yang jauh lebih besar, dan mendorong perubahan negara yang lebih baik. Termasuk menuntut agar para tahanan politik yang masih mendekam di penjara segera dibebaskan,” tegasnya.
Ia berharap generasi muda tetap membangun ruang-ruang demokrasi, kebebasan berkumpul, menyampaikan pendapat, serta melakukan kontrol terhadap kebijakan dan tindakan negara.
Diskusi kemudian berkembang pada persoalan yang terjadi di tingkat lokal. Sejumlah peserta menyoroti kasus meninggalnya Widi Nur Cahyono, warga Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, yang meninggal setelah diamankan anggota Polsek Beji pada Agustus 2026.
Kasus tersebut sebelumnya juga menjadi perhatian Aliansi BEM Pasuruan Raya. Dalam aksi di DPRD Kabupaten Pasuruan, mahasiswa meminta kasus tersebut diusut secara transparan dan menyeluruh.
Penanganan kasus Widi juga telah mendapat perhatian di tingkat kepolisian. Sejumlah laporan menyebut adanya pemeriksaan terhadap personel Polsek Beji, sementara proses penanganannya kemudian mendapat sorotan dan didorong untuk dilakukan secara transparan.
Bagi peserta diskusi, persoalan tersebut menjadi contoh bahwa isu kebebasan sipil dan akuntabilitas aparat tidak hanya berada dalam konteks nasional, tetapi juga memiliki dampak langsung di daerah.
Forum tersebut dihadiri sejumlah elemen gerakan, di antaranya PMII, HMI, IMM, KP-Alternatif, Wahana Baca, dan Aliansi BEM Pasuruan Raya.
Para peserta menyampaikan pandangan mengenai pentingnya ruang sipil yang terbuka, transparansi proses hukum, serta penghormatan terhadap hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat.
Mereka juga menyoroti perlunya pengawasan publik terhadap proses penegakan hukum, terutama ketika terdapat dugaan pelanggaran yang melibatkan aparat negara.
Kegiatan ditutup dengan dokumentasi dan penyatuan sikap lintas elemen. Para peserta menyatakan komitmen untuk tetap menjaga komunikasi antargerakan, mengawal isu kebebasan sipil di tingkat daerah maupun nasional, serta menggunakan jalur-jalur demokratis untuk menyampaikan kritik dan aspirasi masyarakat.
Nobar film Makin Ditekan Makin Melawan akhirnya tidak hanya menjadi kegiatan menonton film, tetapi berkembang menjadi ruang bertukar pandangan dan mengingat kembali berbagai persoalan yang dianggap penting untuk terus dikawal oleh masyarakat sipil di Pasuruan.(Koko)