Monumen Samuel Languyu Diresmikan, Warisan Perjuangan Prajurit TNI AL Kini Dihidupkan Kembali
BITUNG, Indo-news.id — Komandan Kodaeral VIII, Laksamana Muda TNI Deri Triesananto Suherdi SE, M.Tr.Opsla bersama Wali Kota Bitung Hengky Honandar SE secara resmi meresmikan Monumen Patung Samuel Languyu yang berlokasi di Markas Satuan Patroli (Satrol) Kodaeral VIII Bitung, Kamis (15/1/2026).
Peresmian monumen ini menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan penghormatan terhadap jasa pahlawan laut asal Sulawesi Utara yang gugur dalam menjalankan tugas negara.
Monumen Patung Samuel Languyu didirikan sebagai simbol penghargaan atas pengorbanan seorang putra daerah Bitung yang telah menorehkan sejarah penting dalam perjuangan TNI Angkatan Laut.
Samuel Languyu dikenal sebagai prajurit TNI AL yang gugur bersama Komodor Yos Sudarso dalam peristiwa heroik Pertempuran Laut Aru pada 15 Januari 1962, sebuah momentum krusial dalam operasi Trikora untuk merebut kembali Irian Barat ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Komandan Satrol Kodaeral VIII Bitung, Kolonel Laut (P) Marvill Marfel Frits, E.D., S.E., M.Tr.Hanla, CRMP, dalam penjelasannya menyampaikan sejarah singkat perjalanan hidup dan pengabdian Samuel Languyu.
Ia mengungkapkan bahwa Samuel Languyu merupakan putra Aertembaga, Kota Bitung, yang dengan penuh keberanian ikut serta dalam operasi militer laut di atas Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Macan Tutul.
“Samuel Languyu gugur bersama Komodor Yos Sudarso di atas KRI Macan Tutul saat pertempuran Laut Aru di perairan Arafuru. Pengorbanan beliau menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah TNI Angkatan Laut dan bangsa Indonesia,” jelas Kolonel Marvill.
Tulisan sejarah yang tertera pada monumen tersebut menegaskan bahwa gugurnya Samuel Languyu terjadi pada 15 Januari 1962, yang kini diperingati sebagai Hari Dharma Samudera.
Peringatan ini menjadi simbol penghormatan nasional terhadap keberanian dan pengabdian para prajurit laut yang rela mengorbankan jiwa demi kedaulatan negara.
Laksamana Muda TNI Deri Triesananto Suherdi dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa pembangunan dan peresmian monumen ini bukan sekadar penanda fisik, melainkan sarana edukasi sejarah bagi generasi muda prajurit TNI AL dan masyarakat luas.
Menurutnya, nilai-nilai kepahlawanan, loyalitas, dan semangat juang Samuel Languyu harus terus diwariskan agar tidak tergerus oleh zaman.
Wali Kota Bitung Hengky Honandar SE juga memberikan apresiasi atas inisiatif TNI AL melalui Kodaeral VIII dalam mengabadikan jasa pahlawan daerah.
Hengky Honandar menilai monumen ini sebagai pengingat bahwa Bitung memiliki kontribusi besar dalam sejarah pertahanan dan kemaritiman Indonesia.
Peresmian Monumen Patung Samuel Languyu sekaligus memperkuat sinergi antara TNI Angkatan Laut, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjaga nilai sejarah, nasionalisme, serta semangat pengabdian.
Monumen ini diharapkan menjadi sumber inspirasi dan refleksi bagi setiap prajurit dan warga yang berkunjung ke Markas Satrol Kodaeral VIII Bitung.