ALFI ILFA Sulut Soroti Antrean Solar Ganggu Aktivitas Bongkar Muat

1

BITUNG, Indo-news.id—Persoalan antrean bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Bitung mulai mendapat perhatian serius karena berdampak langsung terhadap aktivitas angkutan logistik dan bongkar muat di Pelabuhan Peti Kemas Bitung.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesian Logistics & Forwarders Association (ALFI/ILFA) Sulawesi Utara, H. Ramlan Ifran, membeberkan hasil Rapat Forkopimda dan lintas sektoral terkait pembahasan antrean BBM yang berlangsung di Merdeka Lounge Kantor Wali Kota Bitung, Selasa (6/10/2026).

Rapat tersebut dihadiri sejumlah unsur terkait, di antaranya Kapolres Bitung, Kajari Bitung, Dandim 1310 Bitung, Dirpolairud Polda Sulut serta pihak terkait lainnya.

Menurut Ramlan, salah satu hasil rapat adalah Pemerintah Kota Bitung akan menerjunkan tim untuk melakukan pemantauan secara langsung di enam lokasi SPBU. 

Pemantauan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran faktual mengenai kondisi antrean sekaligus mencari solusi atas persoalan yang telah mengganggu aktivitas kendaraan angkutan barang.

Ramlan Ifran mengatakan, ALFI/ILFA meminta persoalan antrean BBM solar segera diselesaikan. 

Sebab, persoalan tersebut tidak hanya berdampak kepada sopir truk, tetapi telah merembet hingga aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan.

“Persoalan antrean BBM solar di SPBU harus segera diselesaikan karena ini berdampak pada bongkar muat di pelabuhan peti kemas Bitung,” kata Ramlan Ifran kepada sejumlah media.

Ia mengungkapkan, kondisi di lapangan saat ini menunjukkan aktivitas bongkar muat setiap hari hanya berada di kisaran 250 kendaraan kontainer. 

Padahal, dalam kondisi normal, jumlah kendaraan yang seharusnya melakukan aktivitas bongkar muat berada pada kisaran 300 hingga 400 kendaraan setiap hari.

Selisih tersebut, lanjut Ramlan, menyebabkan terjadinya penumpukan kontainer di kawasan pelabuhan. 

Ramlan Ifran menegaskan angka tersebut bukan sekadar data yang dibuat oleh ALFI/ILFA, melainkan menggambarkan kondisi yang terjadi di lapangan.

“Sekarang bongkar muat setiap hari hanya sekitar 250 kendaraan kontainer. Harusnya antara 300 sampai 400 kendaraan. Ini fakta di lapangan, bukan data dari ALFI/ILFA,” tegasnya.

Ia juga menyoroti persoalan antrean panjang yang dialami para sopir kendaraan angkutan barang. 

Menurut Ramlan, sopir harus menunggu hingga tiga hari untuk mendapatkan BBM solar.

Kondisi tersebut dinilai tidak ideal bagi kelancaran distribusi logistik. 

Waktu operasional kendaraan yang seharusnya digunakan untuk mengangkut dan melakukan bongkar muat justru banyak tersita karena harus mengantre di SPBU.

Ramlan juga mempertanyakan penyebab munculnya antrean panjang tersebut. 

Ia menyebut persoalan itu berkaitan dengan dugaan kurangnya stok BBM yang tersedia di SPBU. 

Namun, berdasarkan informasi yang diterima dari Pertamina, kondisi stok secara keseluruhan disebut masih aman.

“Kalau soal stok semua aman. Buktinya sampai hari ini baru sekitar 67 persen kuota yang terpakai. Itu data dari kantor Pertamina Manado,” ujarnya.

Atas kondisi tersebut, Ramlan menduga terdapat faktor lain yang menyebabkan terjadinya antrean solar di lapangan. 

Ia bahkan secara tegas menyinggung adanya dugaan permainan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dalam penyalahgunaan BBM solar.

Pernyataan tersebut disampaikan Ramlan untuk menggambarkan kejanggalan antara kondisi kuota yang menurutnya masih tersedia dengan fakta antrean panjang yang dialami para sopir.

Ia berharap hasil rapat Forkopimda dan lintas sektoral tersebut segera ditindaklanjuti. 

Bagi ALFI/ILFA, penyelesaian antrean solar penting bukan hanya untuk kepentingan para sopir, tetapi juga menyangkut kelancaran rantai logistik, aktivitas pelabuhan, distribusi barang, serta pergerakan ekonomi di Sulawesi Utara.

Ramlan berharap setelah adanya rapat dan langkah pemantauan dari pemerintah bersama unsur terkait, antrean panjang BBM solar di SPBU tidak lagi terjadi.

“Harapannya setelah hasil rapat ini, antrean BBM di SPBU tidak terjadi lagi,” pungkasnya.