SULUT – Sulawesi Utara secara konsisten menghasilkan devisa ekspor sekitar 1,0 hingga 1,3 miliar dolar Amerika per tahun melalui komoditas perikanan dan olahan kelapa.
Secara agregat, kawasan Sulampua diperkirakan menyumbang devisa ekspor sebesar 25 hingga 30 miliar dolar Amerika per tahun.
Angka tersebut setara dengan sekitar 15
hingga 18 persen dari total ekspor nasional.
Kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua
(Sulampua) merupakan kawasan yang
memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional.
Secara umum, kawasan ini
menunjukkan kinerja ekonomi yang positif
dan menjanjikan.
Ini disampaikan Gubernur Sulut Yulius Selvanus dalam sambutannya di Forum group discussion transformasi Sulampua menuju global logistics Hub untuk penguatan efisiensi dan daya saing logistik kawasan timur Indonesia, Senin,(19/01/2026),Aula Lantai 6, di GKN Manado.
“Pulau Sulawesi sebagai
satu kesatuan wilayah mencatat
pertumbuhan ekonomi relatif tinggi di kisaran 5,5 hingga 6 persen. Sulawesi Utara sendiri tumbuh stabil sekitar 5 hingga 5,6 persen, sejalan bahkan sedikit di atas rata-rata nasional,”lugas Selvanus.
Dengan Kondisi ini, Yulius Selvanus menegaskan bahwa Sulampua memiliki basis ekonomi riil yang kuat. Kawasan ini juga menyimpan potensi
pertumbuhan jangka menengah yang besar.
“Karena itu, Sulampua sangat membutuhkan sistem logistik yang lebih efisien dan terintegrasi secara global. Sistem logistik yang kuat menjadi kunci untuk menopang keberlanjutan pertumbuhan ekonomi
kawasan,”jelasnya.
Ia mengatakan Kawasan Sulampua juga dianugerahi sumber daya alam yang
melimpah dan menjadi tulang punggung
nasional baik dari sektor pertambangan,
perikanan, perkebunan, kehutanan, dan
energi.
Kontribusi devisa ekspor kawasan ini sangat signifikan dengan struktur komoditas yang semakin strategis.
Hal ini menunjukkan peran nyata kawasan
timur Indonesia terhadap perekonomian
nasional.
“Hingga saat ini arus
ekspor dan impor kawasan Sulawesi, Maluku dan Papua masih sangat bergantung pada pelabuhan dan bandara di Pulau Jawa dan Bali. Pola ini menyebabkan waktu tempuh
yang panjang dan biaya logistik yang tinggi, dimana pengiriman ke pasar utama Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok dapat mencapai dua puluh lima hingga tiga puluh hari,”ungkapnya.
Sumber daya alam Sulampua juga
masih banyak dikonsolidasikan dan diekspor melalui Jawa, sehingga pencatatan devisa dan manfaat ekonomi turunannya lebih banyak tercermin di wilayah tersebut.
Akibatnya, menurut Selvanus nilai tambah logistik tidak sepenuhnya dinikmati oleh kawasan
asal.
“Kondisi serupa terjadi pada arus
impor, di mana barang modal, bahan
baku, dan barang konsumsi kawasan
timur masih harus melalui Pulau Jawa.
Hal ini memperpanjang rantai distribusi dan meningkatkan biaya,”kata Selvanus.
Yulius Selvanus menegaskan dalam konteks inilah Sulawesi Utara
memiliki posisi yang sangat strategis sebagai pintu gerbang logistik kawasan timur Indonesia.
“Secara geografis, Sulawesi Utara berada pada garis depan Indonesia yang berhadapan langsung dengan pusat pertumbuhan ekonomi Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Sulut juga berada di jalur utama perdagangan Asia Pasifik yang menghubungkan Indonesia dengan pasar global,”kata Selvanus.
Posisi tersebut menurutnya memberikan keunggulan jarak tempuh yang signifikan dibandingkan pelabuhanpelabuhan di Pulau Jawa. Pelabuhan Bitung telah ditetapkan secara nasional sebagai simpul penting pengembangan logistik
Indonesia Timur.
“Penetapan ini menegaskan bahwa Sulawesi Utara memiliki legitimasi
kebijakan nasional sebagai hub kawasan. Posisi tersebut perlu dipandang sebagai
kepentingan bersama kawasan Sulawesi,
Maluku, dan Papua. Karena itu, agenda
utama kita bukan siapa yang menjadi hub,”ucap Selvanus.
Forum ini dimaknai sebagai momentum bersama untuk menyatukan visi dan menjadi ruang terbuka bagi seluruh pihak untuk saling mendengar.
“Melalui forum ini, kami ingin
menyerap permasalahan, hambatan, serta
tantangan nyata yang dihadapi para pelaku
usaha di kawasan Sulampua. Kami juga ingin memahami kebutuhan dukungan
agar layanan direct call dapat berjalan
konsisten dan berkelanjutan. Dengan
sinergi pemerintah, dunia usaha dan mitra internasional, Sulawesi Utara siap
memperkuat posisi Indonesia dalam rantai
pasok global,”lugas Gubernur Yulius Selvanus.
