Karhutla Gunung Arjuno Rusak Jaringan Air Bersih, Khofifah dan Rusdi Siapkan Solusi Permanen
Pasuruan, indo-news.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Arjuno masih berlangsung dan menimbulkan dampak bagi masyarakat. Salah satunya, kerusakan jaringan distribusi air bersih yang melayani warga Desa Jatiarjo dan Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Selasa (20/10/2026).
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Pasuruan menyiapkan langkah penanganan, mulai dari percepatan pemadaman api, distribusi air bersih bagi warga terdampak, hingga pembangunan sumber air alternatif untuk jangka panjang.
Rencana tersebut dibahas dalam rapat terbatas yang dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo di Hutan Cempaka, Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, kemarau panjang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan meluas di sejumlah wilayah Jawa Timur. Karena itu, diperlukan sinergi seluruh pihak untuk mempercepat penanganan karhutla sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat.
“Perlu kerja sama dan koordinasi yang erat dari semua pihak. Semua harus fokus untuk percepatan penanganannya,” kata Khofifah.
Untuk mempercepat pemadaman, Pemprov Jatim terus mengupayakan bantuan helikopter yang dapat digunakan untuk melakukan water bombing atau pengeboman air dari udara.
Khofifah menyebutkan, dari 637 titik panas (hotspot) yang tercatat hingga 19 Oktober 2026, sebanyak 92 titik masih belum padam.
“Kita sedang mengomunikasikan agar mendapat bantuan heli untuk melakukan water bombing. Saya rasa kalau ada water bombing kita bisa lebih efektif. Dan tentu hujan ya, kawan-kawan,” ujarnya.
Selain pemadaman, pemerintah juga menaruh perhatian pada kerusakan jaringan pipa air bersih akibat kebakaran. Kondisi tersebut mengganggu pasokan air bagi warga, terutama masyarakat yang tinggal di kawasan dataran tinggi dan sulit dijangkau kendaraan pengangkut air.
Sebagai langkah jangka pendek, pemerintah melakukan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Sementara untuk jangka panjang, diperlukan sumber air alternatif agar pasokan tetap terjaga apabila jaringan distribusi kembali mengalami kerusakan akibat bencana.
“Intinya pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat semaksimal mungkin kita ikhtiarkan untuk bisa terpenuhi. Jangka pendeknya memang dropping air bersih, tapi jangka panjangnya memang harus ada, katakan sumur, atau kemudian ada sumur ditarik dengan pipa,” tegas Khofifah.
Sementara itu, Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo menegaskan, Pemkab Pasuruan menyiapkan solusi jangka panjang untuk memperkuat ketersediaan air bersih bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Salah satu langkah yang direncanakan adalah pembangunan tiga titik sumur bor, masing-masing dua titik di Desa Jatiarjo dan satu titik di Desa Dayurejo.
Pembangunan tersebut diharapkan menjadi solusi alternatif agar masyarakat tetap mendapatkan pasokan air bersih ketika terjadi bencana yang mengakibatkan jaringan distribusi terganggu.
“Solusi permanen itu untuk ketika ada bencana seperti ini sehingga tidak sampai kekurangan air bersih, yaitu dilakukan pengeboran. Pengeboran untuk di dua desa. Kalau di Jatiarjo, kemungkinan butuh dua titik pengeboran dan di Desa Dayurejo cukup satu titik,” jelas Rusdi.
Selain menyiapkan pembangunan sumur bor, Pemkab Pasuruan juga melakukan distribusi air bersih setiap hari ke desa-desa terdampak. Penyaluran diprioritaskan untuk tiga desa, yakni Jatiarjo dan Dayurejo di Kecamatan Prigen serta Tambaksari di Kecamatan Purwodadi.
Pemkab Pasuruan juga akan memperbaiki jaringan pipa yang rusak akibat kebakaran. Pipa berbahan High Density Polyethylene (HDPE) dan PVC yang terdampak akan diganti menggunakan pipa besi, yang dinilai lebih tahan terhadap paparan kobaran api.
“Kalau memang yang sekarang akan kita lakukan perbaikan, pipanya kita ganti besi karena sudah pasti tahan dari kobaran,” pungkasnya.
Melalui langkah penanganan tersebut, pemerintah berharap pemadaman karhutla dapat dipercepat, kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi, dan sistem distribusi air di wilayah terdampak menjadi lebih tangguh menghadapi potensi bencana serupa.(Koko)