Bukan Sekadar Bela Diri, PSM Bentuk Disiplin dan Kesiapan Prajurit Kodim 1303/Bolmong

0

KOTAMOBAGU – Di atas lapangan, gerakan puluhan prajurit tampak serempak. Kuda-kuda direndahkan, tangan bergerak terukur, sementara pandangan tetap fokus ke depan. Tidak ada gerakan yang dilakukan sekadar untuk menunjukkan kekuatan. Setiap sikap menjadi bagian dari proses membentuk prajurit yang disiplin, terkendali dan siap menjalankan tugas.

Suasana tersebut mewarnai pelaksanaan uji kenaikan tingkat sabuk Pencak Silat Militer (PSM) yang diikuti sebanyak 80 personel Kodim 1303/Bolmong. Kegiatan tersebut diawasi langsung oleh Perwira Seksi Operasional (Pasi-Ops) Kodim 1303/Bolmong, Kapten Inf Demeysus Abraham.

Uji kenaikan tingkat sabuk PSM menjadi salah satu bagian dari pembinaan kemampuan personel dalam meningkatkan keterampilan bela diri sekaligus membentuk karakter prajurit yang memiliki disiplin, ketahanan fisik dan kesiapsiagaan dalam melaksanakan tugas.

Dalam pelaksanaannya, para personel mengikuti rangkaian gerakan dengan penuh konsentrasi. Kekompakan antarpeserta menjadi salah satu gambaran bahwa kemampuan seorang prajurit tidak hanya dibentuk melalui kekuatan individu, tetapi juga melalui kedisiplinan dan kesungguhan dalam mengikuti setiap proses pembinaan.

Bagi prajurit TNI, kemampuan bela diri bukan semata-mata tentang bagaimana menghadapi lawan. Lebih dari itu, latihan menjadi sarana untuk membangun pengendalian diri, keberanian, ketenangan, ketepatan bertindak serta rasa tanggung jawab.

Nilai tersebut penting karena tugas prajurit di tengah masyarakat tidak selalu berhadapan dengan situasi yang sama. Prajurit dituntut mampu mengambil tindakan secara terukur, mengedepankan kepentingan masyarakat dan tetap menjunjung tinggi profesionalisme.

Pasi-Ops Kodim 1303/Bolmong Kapten Inf Demeysus Abraham menegaskan bahwa pelaksanaan uji kenaikan sabuk PSM bukan hanya untuk mengukur kemampuan teknik bela diri personel.

“Uji kenaikan sabuk ini bukan semata-mata untuk melihat kemampuan fisik dan teknik bela diri, tetapi juga bagaimana personel mampu menjaga disiplin, konsentrasi dan pengendalian diri. Kemampuan yang dimiliki prajurit harus digunakan secara tepat, terukur dan bertanggung jawab dalam mendukung pelaksanaan tugas,” ujar Pasi-Ops.

Menurutnya, pembinaan kemampuan personel perlu dilakukan secara berkelanjutan agar setiap prajurit memiliki kesiapan yang semakin baik dalam menghadapi tuntutan tugas.

“Kita ingin membentuk prajurit yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki mental yang baik, disiplin serta mampu mengendalikan diri. Karena pada akhirnya, setiap kemampuan yang dimiliki prajurit harus bermuara pada profesionalisme dan pengabdian kepada masyarakat,” tuturnya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa pembinaan prajurit di satuan tidak berhenti pada kemampuan teknis, tetapi mencakup pembentukan karakter dan kesiapan mental.(Farisa)